Jumat, 12 April 2013

MEMELUK HAKIKAT PENGETAHUAN

(Belajar Epistemologi bersama Platon)
Oleh: Angga Nofianto
Platon (www.religiousverse.com)
Pengantar
           
            Dewasa ini, pengetahuan merupakan suatu hal yang penting dan mendasar bagi kehidupan manusia. Begitu pentingnya pengetahuan sampai-sampai ia menjadi “tuan” yang menguasai setiap aspek di dalam kehidupan manusia, baik itu kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik, seni, maupun kehidupan religius. Bahkan, tidak mengherankan bahwa saat ini pengetahuan sudah menjadi patokan mutlak, untuk menilai seberapa besar kualitas dari masing-masing pribadi. Sehingga, munculah suatu istilah yang dicetuskan oleh Sir Francis Bacon seorang filsuf Inggris (1561-1626) bahwa “Knowledge is Power,”[1] yang semakin mempertegas wibawa pengetahuan sebagai “tuan” atas kehidupan.
            Akan tetapi, pengetahuan itu merupakan suatu hal yang sangat kompleks. Maka, muncullah pembagian-pembagian dalam diri pengetahuan[2], yang bertujuan mempermudah manusia dalam mempelajari serta mendalami suatu hal secara khusus. Melihat begitu kompleksnya pengetahuan dan begitu pentingnya posisi pengetahuan dalam kehidupan, lalu munculah pertanyaan, apa hakikat dan tujuan dari dari adanya pengetahuan itu sendiri? Berangkat dari pertanyaan tersebut, dimulailah ranah pemikiran filsafat Platon tentang hakikat dari pengetahuan.

Baca Selengkapnya . .

RELASI RASIONAL ANTARA PENCIPTA DAN CIPTAAN

(Belajar Kosmologi bersama Thomas Aquinas)

Oleh: Angga Nofianto
Thomas Aquinas (mises.org)

I. Pengantar

            Alam semesta merupakan suatu tema pemikiran filosofis yang tiada hentinya. Dikatakan demikian karena sejak masa Yunani kuno hingga dewasa ini tema tersebut masih saja hangat untuk diperbincangkan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita ada dan hidup di dalam alam semesta, maka suatu hal yang bijak bila kita mengenal secara mendalam tempat di mana kita bereksistensi. Di samping itu, alam semesta penting untuk dibicarakan karena sebagai sesuatu hal yang besar alam ini menyimpan bayak sekali misteri. Misteri-misteri yang ada ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dalam kaitannya dengan Tuhan sebagai penciptanya. Eksistensi dari Tuhan dan kaitan atau hubungan antara Tuhan dan ciptaan-Nya inilah yang akhirnya melahirkan pemikir-pemikir besar abad pertengahan dan patristik. Sebagai contoh seperti Johannes Scotus Eriugena (810-877), Anselmus dari Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus (1079-1142), Bonaventura (1221-1274), Albertus Agung (1205-1280), dan Thomas Aquinas (1225-1274).
            Berangkat dari hal tersebut, maka muncullah pertanyaan mendasar mengenai bagaimana eksistensi dari Tuhan itu dapat dijelaskan secara rasional dan di mana letak hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya? Untuk menjawab hal tersebut maka melalui sudut pandang pemikiran Thomas Aquinas, kita bersama-sama akan belajar dan mendalami tentang kosmologinya.
Baca Selengkapnya . .

Minggu, 17 Maret 2013

GOLGOTA



Golgota kini diselubungi                    
Kesunyian……
                        Keheningan…
                        Membisu tanpa kata
Kini semua mata hanya terarah kepada Kristus yang terpaku di salib
Mata yang memandang hina Kristus
Mata yang penuh
                        Ejekan….
                        Celaan….
                        Cemoohan…
                        Cercaan…..
Kita tidak menyadari segala kedosaan yang telah diperbuat
Hati kita telah dibaluti
                        Egoisme..
                        Kemunafikan…
                        Cinta diri…
Kita tidak menyadari cinta Kristus
Cinta tanpa kemunafikan
Cinta yang tidak mementingkan diri sendiri
Cinta yang penuh pengorbanan
Cinta yang membawa Ia kepada Salib
Golgota….
                        Golgota…..
Kini engkau menjadi saksi penyaliban Kristus
Kini engkau menjadi saksi, keegoisan, kemunafikan, kedosaan manusia
                        Golgota..
                        Golgota….
Engkau kian mencekam dikala bumi diliputi kegelapan
Dikala Tabir Bait Allah tercarik dua
Manusia diselubungi ketakutan dikala menyaksikan peristiwa yang tak lazim ini.
                        Golgota..
                        Golgota…
Masih adakah seberkas cinta untuk Kristus yang tersalib?
Masih adakah rasa penyesalan dalam diri umat manusia untuk Kristus?
Masih adakah kata tobat dari umat manusia untuk Kristus yang terpaku pada salib?
 


                                                                                    Malang, 2012
Fr. Yoldi Diaz, CDD
Baca Selengkapnya . .

Rabu, 16 Januari 2013

MEMBUKA SELUBUNG MITOS PESUGIHAN GUNUNG KAWI: TRADISI NGALAP BERKAT

(PERSPEKTIF FILSAFAT MIRCEA ELIADE)

Oleh: Nikolaus Ena

Abstraksi
Gunung Kawi (halomalang.com)
Gunung Kawi tidak hanya sebagai obyek wisata, tetapi juga sebagai tempat peziarahan dengan melakukan ritual di pasarean  atau makam Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono. Pesugihan Gunung Kawi merupakan suatu tradisi kepercayaan kuno yang berkembang hingga sekarang. Banyak orang percaya ketika mengadakan ritual di tempat ini akan memperoleh berkat pesugihan atau kekayaan (ngalap berkat). Rasa sugesti orang-orang yang berkunjung ke tempat ini merupakan landasan yang menjadi stigma yang dominan dan sangat  melekat. Berdasarkan konsep ini maka menarik perhatian publik, sehingga orang berbondong-bondong berziarah ke Gunung Kawi terutama berasal dari etnis Tionghoa. Doa dan ritual ini dilakukan pada tiap  malam Jumat Legi dan satu Suro (Muharam). Tempat pesugihan Gunung Kawi itu memang unik. Bila keunikan ini dihubungkan dengan keyakinan memang sulit dijelaskan. Namun mitos pesugihan Gunung Kawi ini diyakini oleh banyak orang, bahkan telah menjadi suatu culture masyarakat Malang dan sekitarnya. Tulisan ini ditinjau dari perspektif filsafaf Mircea Eliade untuk mengungkapkan fenomena di balik mitos pesugihan Gunung Kawi.
Kata kunci: Gunung Kawi, pesugihan, ritual, Mbah Jugo, Mbah Imam Sujono, etnis Tionghoa, Jumat Legi, Satu Suro (Muharam), filsafat Mircea Eliade.
Baca Selengkapnya . .

Selasa, 08 Januari 2013

PELANGGARAN HAM DI INDONESIA


(TELAAH DAN KRITIK PERSPEKTIF FILSAFAT THOMAS HOBBES)
Oleh: Nikolaus Ena


1.      Latar Belakang
tabloidjubi.co
     Sejarah perjalanan bangsa Indonesia telah mencatat banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu diantaranya persoalan ekonomi agama, politik pendidikan, terorisme, HAM, dll. Persoalan-persoalan itu tak terselesaikan secara baik dan benar. Adanya tumpang tindih persoalan yang satu di atas persoalan yang lainnya. Yang satu belum terselesaikan sudah ada persoalan yang baru. Hal ini menunjukkan lemah dan rapuhnya otoritas penguasa. Akibatnya, Hak Asasi Manusia turut terseret ke dalam jurang penindasan, perbudakan dan pemerasan serta perampokan. Kebebasan kodarti manusia dilucuti, ditelanjangi oleh manipulasi berbagai pihak dengan praktek yang tidak sehat.
       Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia itu. Hak semacam ini dalam Hobbes dikatakan hak kodrati. Hak ini tidak diberikan oleh kelompok masyarakat, tetapi karena martabatnya sebagai manusia. Hormat terhadap hak-hak asasi dilihat sebagai perwujudan konkret dan pengakuan istimewa atas martabat manusia yang patut dijunjung tinggi sebagai norma obyektif tingkah laku moral-politik dalam relasi. Hak ini melekat pada diri seseorang yang tak bisa diambil, diganyang dan dimanipulasi oleh siapapun. Sumber langsung dari Hak Asasi Manusia adalah martabat (nilai luhur). Dengan demikian, orang lain perlu menghormatinya, termasuk negera. Dalam Hobbes, hak istimewa menyerukan dengan jelas. Diskusi tentang HAM adalah diskusi tentang manusia dalam kodartnya. Kodrat yang dimaksud adalah the state of nature. Siapakah manusia dalam kondisi naturalnya. 
     Alasan pemilihan judul ini, karena didasarkan pada fenomena pelanggaran HAM di Indonesia yang menunjukkan negara tidak mengakui martabat manusia. Menjadi pertanyaan; Dimanakah kedudukan HAM sebagai hak, dimanakah universalitas dan relativitasnya.
Uraian berikut memberikan suatu pencerahan tentang pandangan Hobbes yang berkaitan dengan hak kodrat manusia yang pada dasarnya harus dijunjung tinggi. Namun dalam pelaksanaannya berbeda. Hak kodrat ini diselewengkan oleh orang dan golongan tertentu karena adanya kepentingan, seakan-akan negara ini hak milik perorangan atau kelompok tertentu. Supremasi hukum ditunggangbalikan oleh praktek uang. Hal ini menunjukkan kerapuhan dan lemahnya otoritas pemerintah.
Baca Selengkapnya . .

Rabu, 02 Januari 2013

ILIAS: PERTAUTAN CINTA, KEKUASAAN, DAN KEPAHLAWANAN


(ULASAN  SINGKAT MITOLOGI YUNANI)

Oleh: Klementius Ruslin



1.   Pengantar
Achilles_Triumphant (zenpundit.com)
Tulisan ini mengulas secara singkat mitologi Yunani yang berjudul “ILIAS.” Mitologi ini menceritakan kisah Perang Troya. Perang Troya  terjadi antara dua kerajaan Yunani kuno yakni Troya dan Akaia. Awalnya, kedua kerajaan ini hidup dalam nuansa kedamaian. Ada dan berdirinya kedua  kerajaan ini berkat kehendak dan restu dewa dan dewi. Mereka menghendaki kedua kerajaan ini hidup dalam ketentraman. Akan tetapi, ulah  mereka pulalah yang memicu permusuhan antara dua kerajaan ini. Akhirnya, terjadilah perang antara kedua kerajaan ini untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Baca Selengkapnya . .

Kamis, 20 Desember 2012

PERWUJUDAN NILAI PERSATUAN INDONESIA MELALUI BUDAYA WAYANG KULIT JAWA

Oleh: Angga Nofianto
Pengantar
            Sebagaimana keanekaragaman yang terdapat di Negara Indonesia sudah barang tentu persatuan dan kesatuan memegang peranan penting bagi keutuhan NKRI. Keanekaragaman suku, etnis, bahasa, agama, maupun budaya kerap menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa ini. Persatuan Indonesia yang tercatat dalam sila ketiga dari Pancasila dengan jelas memunculkan sebuah cerminan refleksi bangsa akan kerinduan dari adanya suatu keutuhan. Bangsa yang dengan susah payah bahkan dengan mencucurkan keringat, darah, dan air mata demi menyatukan dan memerdekakannya. Dewasa ini, pengorbanan yang telah ditorehkan oleh para pahlawan seakan menjadi “isapan jempol” semata. Maraknya kasus kekerasan yang terjadi dari hari ke hari semakin merajalela dan menguasai kehidupan masyarakat kita. Seperti yang terjadi di Ambon dalam dua tahun terakhir, 2010-2012, terjadi 65 kasus bentrokan antarwarga di Maluku. Akibatnya, 47 orang meninggal  dan ratusan rumah rusak berat hingga ringan.[1] Ada pula kasus bentrok yang terjadi di Solo, Kamis (3/5/2012), bentrok kali ini terjadi antara  warga Gandekan, Jebres, Solo dengan salah satu organisasi massa (ormas) di Surakarta. Bentrok yang terjadi di perempatan Gandekan ini sudah dimulai dengan keributan sejak satu bulan terakhir dan berpuncak dengan aksi saling lempar batu dan molotov, akibatnya satu unit motor dibakar dan dua orang luka ringan.[2] Suatu bentuk tragedi yang dengan jelas menggambarkan bahwa kurangnya kesadaran kita akan pentingnya persatuan Indonesia.
            Mengherankan, bahwa di negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi ini masih sering terjadi berbagai macam permasalahan yang mengusik tahta persatuan. Persatuan dan kesatuan NKRI yang diidam-idamkan seakan sulit untuk direalisasikan dan sampai sekarang tetap menjadi mimpi belaka. Kiranya memang dibutuhkan suatu pemikiran yang mendalam akan solusi-solusi demi terciptanya persatuan bangsa pada umumnya dan daerah-daerah yang berada di Indosesia pada khususnya.
Baca Selengkapnya . .

KARYA HATI

Tak ada kata yang dapat tercuat
Hanya goresan grafit yang membentuk karya
Bermuara di atas lembaran kayu putih nan bersih
Bercermin kaca mencoba ungkap rasa

Bendungan hati terasa tak tertahan lagi
Memaksa keluar mengoyak kantung diri
Walau baja menjadi bentengnya
Tak ada guna, tak ada arti

Kini tiba pada puncak asa
Beranikan diri menangkap mimpi
Meski akan menerima berbagai perkara
Langkah malaikat tak kan berhenti kembali

Wahai mimpi tangkaplah maksud nurani
Hilangkanlah rasa bayang-bayang fatalisme
Jangan biarkan ia membutakan rasa
percayalah bahwa ini nyata

Meski ya meski tidak
Akan menentukan semua
Tapi tak merubah semua
Harapan Jiwa, tetaplah indah adanya

Garum, 2011
Angga Nofianto
Baca Selengkapnya . .

DEWI MIMPI PENDAMAI HATI

Cahaya harapan menampakan keanggunan
Glora kehidupan perlahan muncul menembus kebisuan
Keacuhan hati yang membeku seraya dihangatkan
Kini jiwa kembali digetarkan

Sang mimpi mengoyak kantung hati
Bendungan rasa telah sampai pada batas jiwa
Mencoba bertahan mengokohkan diri
Tapi tak kuasa menaham luapannya

Saat letih raga merangkul dengan erat
Meremukan semangat dalam penziarahan waktu
Kau datang dengan senyum menawan yang menyengat
Sang dewi mimpi pendamai hati yang layu

Kehadiranmu mencairkan bekunya kalbu
Menjadikan musim panas dengan cahaya mentari yang beradu
Mungkinkan tangan menggapai angan
Sang dewi mimpilah penentu jawaban

Kini saatnya coba titipkan hati ke hati
beranikan diri tuk melewati duri
Meski tak tahu bagaimana akhir ceritanya
Ku kan tetap bertanya, adakah ruang kosong bagi hatiku di sana?

Garum, 2011
Angga Nofianto
Baca Selengkapnya . .

RINTANGAN

Menatap langit menembus angan
Biarkan hati tuk terus terbang
Memang kadang lelah rasa kan menghambat langkah
Tapi tetaplah bertahan tuk kobarkan asa

Memang mimpi tak selalu putih
Tapi bintang kan tetap benderang pancarkan harapan
Saat rasa hanya berkawan sepi
Ingatlah engkau tak sendiri hadapi dunia ini

Ketika gaung anjing mengusik diri
Ketika suaranya menjadikanmu tak berdaya
Janganlah engkau menjadi lemah
Jangan biarkan sedih mencemari kekokohan hati

Kini saatnya mendewasakan diri
Kuatkan kaki menapaki bumi
Memang goresan tinta tak cukup mewakili sejuta petuah
Tapi, percayalah badai kan berlalu meninggalkan suka

Garum, 2011
Angga Nofianto 

Baca Selengkapnya . .

Senin, 03 Desember 2012

MENEMUKAN TUHAN DALAM RELASI DENGAN ALAM

Oleh: Angga Nofianto
Dok. Fr. Andre, CDD
“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, ... “
(Ibr 11: 3)
***
            Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang memiliki derajat paling tinggi dibandingkan dengan ciptaan lainnya, karena manusia adalah citra dari Allah sendiri (bdk. Kej 1: 27). Sebagaimana ciptaan lainnya manusia juga terlahir dengan membawa panggilan hidupnya masing-masing. Panggilan hidup manusia tersebut terkait dengan jawaban iman manusia dari tawaran yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah memanggil manusia karena Ia mencintainya. Kita sebagai manusia ibarat tandon (tempat persediaan) air yang berisi penuh dengan air dan cinta diibaratkan dengan air itu sendiri. Air tersebut tidak akan berguna bila hanya disimpan saja, sebaliknya akan justru berguna dan dapat memberikan kehidupan bagi mahluk lain apabila dibagi-bagikan. Demikina pula dengan cinta, kita manusia dipenuhi oleh cinta yang diberikan oleh Allah sendiri dan cinta itu bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagi-bagikan kepada mahluk lain. Kita memiliki kemampuan untuk itu, untuk menyalurkan cinta kepada mahluk ciptaan Tuhan lainnya dalam arti alam semesta. Melalui anugrah kuasa yang diberikan Tuhan kepada kita (manusia) untuk berkuasa atas segala ciptaan-Nya (bdk. Kej 1: 26), kita dituntut pula untuk tidak semena-mena dalam mempergunakan seluruh ciptaan-Nya tersebut. Menguasai memiliki arti bahwa kita memiliki kewajiban untuk juga mengusahakan dan memelihara apa yang telah diciptakan oleh Tuhan tersebut (bdk. Kej 2: 15).
Baca Selengkapnya . .

Minggu, 02 Desember 2012

TANGGALKANLAH KASUTMU

Oleh: Angga Nofianto 


            Hidup kaya raya, terpandang, populer, punya banyak gelar, dan kekuasaan, di zaman sekarang ini seakan-akan menjadi impian setiap orang. Orang merasa dirinya “sukses” dan bangga apabila semuanya itu sudah terpenuhi. Bahkan, berbagai macam cara bisa ditempuh demi tercapainya kesuksesan tersebut. Melalui iklan-iklan dan acara-acara di televisi yang selalu mempertontonkan segi-segi kekayaan duniawi, menjadikan kebanyakan orang seakan-akan “terhipnotis” bahwa itulah tujuan hidup yang sesungguhnya.
            Namun, apabila kita melihat dari sudut pandang iman kristiani, tujuan dari kehidupan manusia yang sebenarnya bukanlah demikian. Harta, popularitas, dan kekuasaan adalah barang duniawi yang bersifat fana dan sementara. Semuanya, hanya pemuas keinginan daging yang bila dituruti tidak akan pernah ada habisnya. Kecenderungan untuk selalu memuaskan keinginan diri, secara sadar atau tidak hanya akan membentuk karakter manusia dalam suatu budaya yang kurang baik, seperti budaya konsumtif dan hedonis. Dalam hal ini, manusia kurang mengerti dan memahami dengan baik akan tujuan sejati dan mendasar dalam hidupnya, yaitu bersatu kembali dengan Sang Penciptanya. 
Baca Selengkapnya . .

PERGULATAN JIWA

Permata jiwa bersinar kembali
Menghapus gelap yang mencemarkan hati
Gundah & gelisah kini menjadi putih
Proteksi diri dari kebodohan yang merajai

Terbukalah kini gapura manusiawi
Mencoba rona menjelaskan mata
Benarkah kata sesuci nabi
Tak ada lingkaran yang berujung tepi

Kadang bermimpi bersanding bidadari
Tak elak jiwa terbawa mengangkasa
Mengalun lembut membisikan suara
Tapi tak akan burung terus mengudara

Mantapkan kaki menjamah bumi
Lapili & debu menjadi teman sejati
Bercumbu kalbu menyatukan rasa
Menghilangkan sekat diskriminasi asa

Saatnya telah tiba
Pasukan abadi meniup sangkakala
Sayap malaikat melambaikan harapan
Beranikah tangan menyentuh bulunya?

Semua ditentukan oleh nada
Bunyi indah ratapan surga
Barang siapa mendengarnya
Berani menyahut tongkat gembala ‘kan menjadi miliknya

Garum, 2011
Angga Nofianto
Baca Selengkapnya . .

Sabtu, 01 Desember 2012

FILSAFAT PEMBALIKAN DAO


 Oleh: Nikolaus Ena

1 Pengantar
Lao Zi
Dalam realitas kehidupan manusia maupun alam semesta ini seringkali hal-hal yang berlawanan seperti besar-kecil, tua-muda, tinggi-rendah, jauh-dekat, suka-duka, baik-buruk, gemuk-kurus, ada-tidak ada dll. Persoalan ini membuat manusia dan alam tidak bisa menerima yang satu dan menghindari yang lainnya. Realitas ini bermunculan secara bersamaan meskipun pada saat yang berbeda. Misalnya; hari ini seorang gembira atau senang karena memperoleh sesuatu, akan tetapi suatu saat akan mengalami kesedihan setelah ia kehilangan apa yang diidamkannya itu.
Keberlawanan fenomen ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan. Hal ini disebabkan oleh  karena salah satu unsur lebih mendominasi dari unsur lainnya. Sadar atau tidak inilah realitas hidup yang dalam Daoisme disebut ketidakseimbangan. Coba di alam semesta ini hanya ada kekeringan yang terus menerus tanpa ada hujan. Lain lagi, coba membayangkan kalau dunia ini hanya ada siang saja, tanpa ada malam atau sebaliknya.
Tradisi Daoisme membahas hal-hal yang berbeda ini. Dalam Kitab Dao De Jing banyak ditemukan pernyataan yang bersifat kontradiktif atau berlawanan, misalnya, tambahkan sesuatu, maka ia akan berkurang, kurangi sesuatu, maka ia akan bertambah. Berbuat dengan tidak berbuat, ada dan ketiadaan dll. Interrelasi antara hal-hal yang berbeda ini diatur melalui sebuah hukum yakni hukum pembalikkan. Meskipun banyak perbedaan yang bertentangan, baik dalam alam semesta maupun dalam hidup manusia, tetapi semuanya berasal dari satu prinsip yang sama yaitu Dao.
Tulisan ini hendak menguraikan bagaimana Dao yang mengatur relasi hal-hal yang berlawanan, kontradiktif itu agar menjadi suatu sistem yang seimbang. Penulis mengajak kepada pembaca untuk melihat lebih dalam fenomena kontradiktif ini saling melengkapi satu terhadap yang lain. Tidak bisa memilih yang satu dan membiarkan yang lain. Keduanya memang  terpisah, tetapi Keduanya saling mengisi. Untuk memahami filsafat pembalikkan Dao terlebih dahulu kita perlu memahami konsep-konsep Dao.
Baca Selengkapnya . .

Kamis, 29 November 2012

ARTI SEBUAH PERSAHABATAN

(Plato dalam Ajarannya tentang Persahabatan)
Oleh: Angga Nofianto

Pengantar
Plato
            Setiap orang di dalam hidupnya pasti menginginkan terjalinnya sebuah persahabatan. Persahabatan begitu tinggi nilainya, sehingga setiap manusia baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun lansia selalu berusaha untuk memerolehnya. Persahabatan menjadi idaman setiap orang dan sangat tampak terutama bagi mereka yang dalam proses pencarian jati diri (remaja). Demikian pula di dalam dialog Sokrates dengan Lysis yang menunjukkan betapa eksistensi dari persahabatan sangat dirindukan kehadirannya.
“Ada orang yang ingin memiliki kuda-kuda, yang lain menginginkan anjing-anjing, emas dan yang lain mengingikan kehormatan: aku tidak memedulikan hal-hal itu, tetapi dengan penuh hasrat (erotikos) aku menginginkan sahabat-sahabat, dan aku lebih suka memiliki seorang sahabat yang baik (philon agathon) daripada burung puyuh atau ayam jago yang paling bagus sedunia; . . . . Dan aku begitu yakin, . . . . Aku jauh lebih ingin mendapatkan seorang teman (betairon) daripada segala emas milik Darius, . . . . Aku lebih memilih teman-temanku [212a].”[1]    
Persahabatan sejati menjadi impian setiap orang. Akan tetapi, di zaman modern yang sarat akan pertimbangan-pertimbangan untung dan rugi, arti dari term persahabatan itu sendiri menjadi kabur. Eksistensi persahabatan menjadi dipertanyakan. Sehingga muncullah berbagai macam pertanyaan seputar siapa sahabat itu? Apa arti persahabatan itu? Atau, adakah persahabatan itu sendiri?
Kenyataan ini tentu menjadi bahan permenungan tersendiri, terutama bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari arti persahabatan di zaman ini. Persahabatan sejati yang dalam pengertiannya dapat memerjelas pemahaman akan eksistensi persahabatan itu sendiri. Melalui Plato dalam dialog antara Sokrates dengan Lysis, akan semakin diperjelas arti dari persahabatan sejati, serta apa tujuan dari persahabatan itu. Sehingga dalam menjalin suatu relasi persahabatan dapatlah diperoleh salah satu model persahabatan yang ideal menuju pada suatu kebaikan.
Baca Selengkapnya . .