Oleh: Angga Nofianto
| Dok. Fr. Andre, CDD |
(Ibr 11: 3)
***
Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang memiliki derajat paling tinggi dibandingkan dengan ciptaan lainnya, karena manusia adalah citra dari Allah sendiri (bdk. Kej 1: 27). Sebagaimana ciptaan lainnya manusia juga terlahir dengan membawa panggilan hidupnya masing-masing. Panggilan hidup manusia tersebut terkait dengan jawaban iman manusia dari tawaran yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah memanggil manusia karena Ia mencintainya. Kita sebagai manusia ibarat tandon (tempat persediaan) air yang berisi penuh dengan air dan cinta diibaratkan dengan air itu sendiri. Air tersebut tidak akan berguna bila hanya disimpan saja, sebaliknya akan justru berguna dan dapat memberikan kehidupan bagi mahluk lain apabila dibagi-bagikan. Demikina pula dengan cinta, kita manusia dipenuhi oleh cinta yang diberikan oleh Allah sendiri dan cinta itu bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagi-bagikan kepada mahluk lain. Kita memiliki kemampuan untuk itu, untuk menyalurkan cinta kepada mahluk ciptaan Tuhan lainnya dalam arti alam semesta. Melalui anugrah kuasa yang diberikan Tuhan kepada kita (manusia) untuk berkuasa atas segala ciptaan-Nya (bdk. Kej 1: 26), kita dituntut pula untuk tidak semena-mena dalam mempergunakan seluruh ciptaan-Nya tersebut. Menguasai memiliki arti bahwa kita memiliki kewajiban untuk juga mengusahakan dan memelihara apa yang telah diciptakan oleh Tuhan tersebut (bdk. Kej 2: 15).
